Usaha PPP Kembali Bangkit pada Pemilu 2019

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (tengah) mendapatkan nomor 10 sebagai peserta pemilu 2019 saat pengundian nomor urut parpol di kantor KPU, Jakarta, Minggu (19/2). (foto : Liputan6.com)

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lahir dari hasil fusi politik empat partai Islam. Keempat partai tersebut ialah Partai Nadhlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Islam Perti. Fusi politik ini dinilai dapat menyatukan berbagai kelompok dan faksi Islam di Indonesia, serta menyederhanakan sistem kepartaian di Indonesia saat itu.

Namun, PPP tidak selalu berideologi Islam. Di tahun 1984, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk menggunakan Pancasila sebagai dasar bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk PPP. Tak hanya asas yang berganti, lambang partai pun berganti menjadi bintang dalam segilima. Kondisi ini berlangsung selama 14 tahun sebelum runtuhnya era Soeharto. Pada masa reformasi, PPP kembali menjadi ke ideologi dan lambang asalnya.

Partai yang memproklamirkan dirinya sebagai Rumah Besar Umat Islam ini telah mengikuti Pemilihan Umum sejak tahun 1977. Sayangnya, peringkatnya selalu berada di bawah Partai Golkar.

Datangnya era reformasi bukannya meningkatkan performa PPP, malah menurunkan peringkatnya hingga posisi delapan pada Pemilu 2014. Salah satu faktornya adalah munculnya partai-partai baru dengan tokoh-tokoh yang terkenal, seperti PDI Perjuangan dengan Megawati Soekarnoputri, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Abdurahman Wahid, Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono, dan partai-partai lainnya.

Meski hasil hasil pemilu selama 37 tahun terakhir tidak terlalu baik, PPP tetap optimistis. Bahkan, partai yang lahir pada 5 Januari 1973 ini menargetkan posisi tiga besar pada pesta demokrasi 2019. PPP sendiri mendapat nomor urut 10 dari Komisi Pemilihan Umum untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Dukung Jokowi
Pada Pemilu Presiden 2019, PPP menetapkan pilihannya pada calon presiden Joko Widodo atau Jokowi. Bahkan, Ketua Umum PPP, Muhammad Romahurmuziy, menyatakan bahwa partainya akan mendukung Jokowi tanpa syarat, termasuk tidak mencalonkan kadernya sebagai calon wakil presiden.

Dukungan partai berusia 45 tahun ini terhadap Jokowi juga ditampilkan dengan munculnya tagar #Lanjutkan212. Tagar tersebut digaungkan sebagai tandingan tagar #2019GantiPresiden yang dimunculkan lawan politiknya.

Angka 212 didapat dari sepak terjang Jokowi di dunia politik, yakni dua tahun menjabat sebagai Wali Kota Solo, satu tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan harapan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua tahun.

Reporter: Melissa Octavianti
Kutip 🙁 liputan6)

Bagikan ;