PPP Canangkan 2017 Sebagai Tahun Kaderisasi

Rakornas dan Latihan Kepemimpinan Kader Utama Angkatan 1 Partai Persatuan Pembangunan, di kompleks Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (27/1/2017). (foto:wartakota)

Dua tahun lamanya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dilanda konflik internal yang menguras energi para pengurus dan anggotanya.

Dualisme kepemimpinan membuat kader-kader di berbagai wilayah di Indonesia kebingungan. Hingga akhirnya pada 2016 lalu, dualisme kepemimpinan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) berhasil disatukan dalam sebuah muktamar konsolidasi.

“Sekian lama energi kita terkuras sehingga proses kaderisasi terhenti. Pada 2016 kita telah melalui tahun konsolidasi. Kini saatnya bersama-sama menata kembali partai ini,” ujar Ketua DPP PPP Muhammad Romahurmuziy, saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Latihan Kepemimpinan Kader Utama Angkatan 1 Partai Persatuan Pembangunan, di kompleks Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (27/1/2017).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 219 peserta dari seluruh wilayah di Indonesia. Peserta akan mendapat sejumlah pembekalan kepemimpinan, untuk ditularkan kepada kader lain di wilayahnya masing-masing.

“Ini sebagai upaya DPP untuk memutus kebekuan kaderisasi. Selama dua tahun partai tidak melakukan kaderisasi, karena kita tahu sama-sama, partai ini harus menghadapi tantangan konsolidasi. Kami akan tata kembali sistem kaderisasi secara terorganisasi mulai pelatihan di tingkat DPC, DPW, dan DPP,” imbuh Romi.

Romi menegaskan, selama 2017, pihaknya akan gencar melakukan kaderisasi, dari tingkat ranting hingga DPP, untuk mencari kader-kader potensial yang akan membawa PPP kepada puncak kejayaan yang pernah dirasakan beberapa dekade lalu.

“Kami pastikan, tahun 2017 ini merupakan tahun kaderisasi. Kita akan menyaring kader-kader potensial mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga tingkat DPP. Sedangkan untuk tahun 2018, kita tetapkan sebagai tahun seleksi, di mana nanti akan terpilih kader-kader yang potensial para calon pemimpin dari hasil proses kaderisasi selama 2017,” paparnya.

Sedangkan pada 2019, lanjut Romi, merupakan tahun kompetisi, di mana para kader diharapkan berjuang bahu-membahu demi tercapainya target menjadi partai dengan perolehan suara tiga besar dalam pemilu 2019.

“Target berada dalam tiga besar saya harapkan bukan hanya jadi jargon. Tapi ini bentuk keinginan yang harus kita upayakan dengan kerja keras dan bahu membahu. Target ini tidak bisa dicapai dengan leha-leha,” paparnya. (kutip : wartakota )