PANCASILA, KEBHINNEKAAN DAN TOLERANSI SEBAGAI PONDASI TEGAKNYA NKRI

Oleh H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si

Kilasan Sejarah
Bangsa Indonesia secara historis memiliki nenek moyang sama, yaitu bangsa Melayu Austronesia yang memiliki kultur yang homogen. Kemudian diiringi dengan datangnya manusia dari berbagai suku, ras, agama, kolonialisme dan globalisme yang pada akhirnya masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multikultur. Multikulturalisme Indonesia ditandai dengan munculnya beragam budaya yang memiliki ciri khas budayanya masing-masing suku. Multikulturalisme dapat dimaknai sebagai “pandangan dunia atau world view of politics recognition”, terhadap ideologi, realitas pluralis, dan kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat. (Hendar Putranto, 2011: 159).

Realitas kebhinnekaan di Indonesia di atas tidak dapat ditolak dan merupakan suatu keniscayaan sejarah. Para Founding Fathers telah menetapkan dan merumuskan ideologi yang dapat mempersatukan realitas tersebut ke dalam Pancasila. Pancasila telah melalui perjalanan panjang penuh tantangan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah telah membuktikan bahwa hingga hari ini Pancasila mempunyai peran yang sangat besar bagi terawatnya kebhinekaan dalam bingkai NKRI.

Di samping itu, nilai luhur bangsa Indonesia berupa toleransi juga mempunyai peran penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama mampu berdiri tegak karena adanya nilai toleransi yang dipegang oleh masyarakat Indonesia. Dengan sikap toleransi, memungkinkan orang yang berbeda ras, tradisi, suku bangsa dan agama dapat saling memahami dan menghargai satu sama lain, sehingga bersepakat untuk selalu hidup bersama dalam wadah NKRI.
Indonesia merupakan Negara yang menganut paham kebangsaan (nation-state), bukan Negara agama yang didasarkan pada keagamaan tertentu. Hampir semua agama-agama besar dunia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu) hidup dan berkembang di Indonesia. Alasannya, karena adanya sikap terbuka dan toleransi yang dianut oleh masyarakat dan bangsa Indonesia,sehingga perbedaan agama yang ada di Indonesia tidak menjadi akar perpecahan melainkan membangun kebersamaan dalam perbedaan.

Namun hari ini, kebhinnekaan dan toleransi di Indonesia sedang menghadapi tantangan. Tantangan terhadap rongrongan keutuhan NKRI paling tidak disebabkan oleh dua hal yaitu , yaitu pertama, faham fundamentalisme agama. Kedua, faham fundamentalisme sekular.

Pertama, faham fundamentalisme agama ingin menarik Pancasila ke dalam agama. Kedua, faham fundamentalisme sekular ingin memisahkan agama dari Pancasila. Pertentangan dan tarik-menarik antara faham fundamentalisme agama dan fundamentalisme sekular sedemikian kuat. Imbasnya Pancasila sebagai ideologi bangsa terancam keberadaannya.

Kebhinnekaan dan Toleransi

Kebhinekaan di Indonesia terlihat dari berbagai perspektif, diantaranya banyaknya suku bangsa, adat-istiadat, budaya, dan agama yang secara geografis membentang dari Sabang sampai ke Merauke. Keragaman ini adalah anugerah yang besar bagi bangsa Indonesia. Namun demikian, keragaman suku bangsa, adat-istiadat, budaya, dan agama dapat menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI apabila tidak dikelola secara cermat.

Para founding fathers bangsa Indonesia pun menyadari bahwa keragaman yang dimiliki bangsa merupakan realitas yang harus dijaga eksistensinya dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Keragaman merupakan suatu kewajaran yang harus disadari dan dihayati keberadaannya yang harus disikapi dengan penuh toleransi. Kemajemukan di Indonesia ini tumbuh dan berkembang dalam rentang ratusan tahun lamanya sebagai warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia.

Islam memandang bahwa keragaman ini merupakan realitas kehidupan yang harus disyukuri keberadaannya. Hikmah dari keragaman dan kebhinekaan ini adalah supaya umat manusia yang berbeda itu dapat saling mengenal satu sama lain dengan baik. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 disebutkan
yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

 

Terkait toleransi, bangsa Indonesia telah mempraktekkan sejak dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sikap toleransi diterjemahkan sebagai sikap menenggang (menghargai, membiarkan, atau membolehkan)
pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan lain sebagainya) yang berbeda dengan pendirian kita sendiri. Kita memberikan toleransi terhadap agama lain, berarti kita membiarkan penganut agama lain untuk menjalankan aktivitas agama mereka.

Dalam Islam nilai toleransi juga menempati posisi yang tinggi untuk diamalkan. Islam telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama adalah
sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Toleransi dan kebebasan beragama disandarkan pada ayat la ikraha fi al- Din. Persisnya Allah berfirman dalam QS al-Baqarah [2] : 256),

“Tidak boleh ada paksaan dalam agama.” 

Keragaman yang berbalut toleransi di Indonesia telah ada sejak dahulu hingga kini. Salah satu buktinya adalah masih berdiri bangunan Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha dan Candi Prambanan sebagai
tempat ibadah Umat Hindu. Padahal Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Selain itu, fakta ini juga menjadi bukti bahwa toleransi antaragama dan budaya masih sangat dijunjung tinggi di negara ini.

Islam datang di Indonesia tidak serta merta merubah budaya dan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Proses pertumbuhan dan perkembangan agama Islam melalui dakwah, dengan melakukan “akulturasi budaya”. Hal ini terlihat jelas dari model dakwah yang dilakukan oleh Walisongo. Beberapa contoh misalnya, model arsitektur bangunan masjid di Jawa tidak memakai kubah seperti pada umumnya di tempat asal Islam berkembang (jazirah Arab), tapi justru berbentuk layaknya bangunan Hindu.

Sunan Kalijaga dalam dakwahnya menggunakan media wayang, sebuah sarana kesenian yang disenangi  masyarakat Jawa. Masyarakat Kudus hingga saat ini tidak memakan daging sapi, sehingga pada musim hari raya kurban, orang bukan berkurban sapi, tetapi berkurban kerbau. Tradisi yang ada di Kudus ini merupakan hasil dari dakwah Sunan Kudus waktu itu, yang melarang orang Islam memakan daging Sapi, untuk menghormati umat Hindu yang melarang memakan daging sapi. Di daerah lain, dalam perepsktif sosial terdapat ikatan kekerabatan yang terus dipelihara, misal di Maluku ada “Pela Gandong” dan di Sulawesi Utara ada “Torangbasudara”.  Oleh karena itu kebhinnekaan sebagai fakta sosial bangsa Indonesia harus dijaga sebagai anugerah sebagai modal dalam membangun bangsa. Dan kebhinnekaan akan tetap utuh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia selama nilai-nilai toleransi di Indonesia masih tetap dipegang dan dipraktekkan di tengah-tengah masyarakat
Pancasila dan Kebhinnekaan 

 

Pancasila merupakan upaya final bangsa Indonesia dalam menjaga kebhinnekaan. Pancasila telah mengalami perdebatan ideologis panjang sejak sebelum Indonesia merdeka. Sejumlah tokoh yang menjadi panitia BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sudah melakukan perdebatan panjang tentang Dasar Negara. Akhirnya Pancasila dipilih sebagai Dasar Negara Indonesia.

Para ulama juga sepakat bahwa Pancasila adalah solusi kebangsaan(makharij wathaniyyah) yang menjadi titik kesepakatan dan kompromi dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, agama menjadi kekuatan besar  yang menginspirasi lahirnya Pancasila.

Dalam perspektif Islam, negara Indonesia bukanlah negara Islam (darul islam), negara kafir (darul kufri), atau negara perang (darul harbi), tapi negara perjanjian (darul ahdi). Implikasinya yaitu umat Islam dan nonmuslim di
Indonesia saling mencintai, menyayangi, dan tolong-menolong. Karena menurut Imam Ghazali, negara terbentuk karena adanya saling bergantung dan membutuhkan (ta’awun dan tanashur). Selain itu, dasar bagi seorang muslim
adalah adanya kaidah fiqh yang berbunyi, al-muslimuna ala syurutihim, umat Islam terikat oleh kesepakatan yang mereka buat.

Kesepakatan bangsa Indonesia membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila adalah mengikat seluruh elemen bangsa. Bagi umat Islam, kesepakatan tersebut merupakan tanggungjawab keagamaan
(mas’uliyyah diniyyah) sekaligus sebagai tanggungjawab kebangsaan (mas’uliyyah wathaniyyah) yang bertujuan untuk memelihara keluhuran agama dan mengatur kesejahteraan kehidupan bersama (hirâsat ad-dîn wa siyâsat addunya).

Selain itu karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, baik suku, ras, budaya maupun agama dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Umat Islam Indonesia mengembangkan sikap kebajikan dalam bergaul
(mu’asyarah bi al-ma’ruf) dengan umat beragama lainnya sebagai sesama bagian warga bangsa terikat oleh komitmen kebangsaan sehingga harus hidup berdampingan dengan prinsip kesepakatan (mu’ahadah atau muwatsaqah), bukan posisi saling memerangi (muqatalah atau muharabah). ke dalam agama, dimana tujuan akhirnya adalah mendirikan khilafah islamiyah, maka hal demikian harus ditolak. Karena tidak sesuai dengan prinsip yang dipegang oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

Dalam perjalanan bangsa Indonesia, seringkali agama dijadikan sebagai alat pemecah belah. Berbagai rongrongan terus dihembuskan untuk menurunkan kepercayaan kepada Pancasila. Seolah-olah Pancasila itu hal yang harus dijauhi sepenuhnya. Hal itu dikarenakan agama dipahami secara eksklusif dan ekstrim (tatharruf). Sebaliknya terutama para tokoh agama semestinya memahami agama dengan melihat juga kondisi objektif bangsa Indonesia yang majemuk (multi-kultural, multi-agama, dan multi-etnis), sehingga pemahaman keagamaan lebih bersifat moderat, tentu saja dengan tanpa mengorbankan ajaran-ajaran dasar agama. Pemahaman yang moderat akan menghasilkan ajaran agama yang mengedepankan kasih sayang (rahmah), perdamaian (salam), dan toleransi
(tasamuh).

Pancasila juga mendapatkan tantangan dengan adanya faham fundamentalisme sekular. Faham ini menginginkan Pancasila tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh agama. Dengan kata lain, ada pihak yang ingin melakukan
sekularisasi Pancasila. Padahal Pancasila sendiri digali dari kearifan lokal masa lalu bangsa Indonesia yang bersifat religius. Artinya falsafah yang terkandung dalam Pancasila tidak bisa dijauhkan dari nilai-nilai agama yang sudah ada dalam realitas kehidupan bangsa Indonesia sejak dahulu.

Pancasila memang bukan agama, melainkan merupakan kumpulan value (nilai) dan vision (visi). Pancasila juga bukanlah wahyu, akan tetapi bentukan para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa dan tokoh-tokoh penting—termasuk di dalamnya para kyai dan ulama—berkumpul melalui debat panjang menyusun butir-butir Pancasila. Pancasila disusun bukan hanya oleh kalangan nasionalis saja melainkan melibatkan para kyai dan ulama, maka nafas Pancasila menjadi sangat moderat.

Sebagai contoh, sila pertama dalam butir Pancasila memperlihatkan bagaimana ideologi moderat melekat erat pada Pancasila, tidak memihak pada agama manapun, akan tetapi juga tidak mengesampingkan agama dalam negara sebagaimana negara sekular. Dalam sila pertama juga memperlihatkan bagaimana komitmen bangsa Indonesia dalam menyatakan dirinya sebagai bangsa yang bertuhan.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa nilai-nilai dan visi Pancasila sangat Islami karena senafas dan sesuai dengan ajaran Islam. Sebab, dalam Islam, bukan hanya kesatuan dan persatuan Indonesia, tetapi kemanusiaan yang adil
dan beradab, keadilan sosial bagi seluruh rakyat, serta hikmah dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan juga diterapkan. Dalam Islam, umat lain mendapatkan perlindungan penuh dari negara. Juga jaminan
kebutuhan hidup yang sama, baik sandang, papan, dan pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan.

Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, “man adza dzamiiyan faqad adzani” Artinya, “siapa saja yang menganiaya ahli dzimmah (non Muslim yang wajib dilindungi), maka sama dengan menganiaya diriku).” Ketika rumah seorang Yahudi hendak digusur oleh Amr bin al-Ash untuk pembangunan masjid, yang berarti menasionalisasi hak milik pribadi, Umar bin Khatab marah dan meminta gubernurnya mengembalikan hak milik pribadi Yahudi tersebut.

Juga kisah Ali bin Abi Thalib, yang bersengketa dengan orang Yahudi soal baju besi. Kasus itu dimenangkan oleh orang Yahudi, yang notabene rakyat jelata. Inilah jaminan keadilan sosial yang diberikan Islam, lebih baik dibanding
konsep keadilan sosial yang diadopsi dari sosialisme dan kapitalisme.

Kesimpulan 

Selama kurang lebih 72 tahun bangsa Indonesia mengalami dinamika, tantangan, dan hambatan. Namun ternyata selama 72 tahun tersebut bangsa Indonesia dapat melaluinya dan tetap hidup berdampingan dalam toleransi
antara sesama warga negara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut bukan tanpa sebab, kalau ditelusuri lebih jauh hal itu dikarenakan bangsa Indonesia memiliki tiga modal besar yang dipertahankan hingga kini. Tiga modal besar itu antara lain modal rohaniyah, modal sosialbudaya, dan modal ideologi yang kuat.

Pertama, modal rohaniyah. Modal rohaniyah ini merupakan modal yang bersifat spiritual. Hal itu terjadi karena kehidupan beragama sudah melekat dan menjadi jati diri bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang anti agama, namun mengakui dengan tulus bahwa mereka berbangsa berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengakuan tentang Ketuhanan ini dalam sila pertama Pancasila menjadi titik tolak praktek kehidupan beragama di Indonesia.

Kedua, modal sosial-budaya. Keragaman suku bangsa, budaya, dan agama bukan dijadikan sebagai alat untuk memecah belah. Namun keragaman itu dijadikan sebagai modal bersama untuk membangun bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesadaran perbedaan itulah yang kemudian justru merekatkan antar sesama komponen bangsa. Dan Pancasila dijadikan sebagai alat pemersatu dalam visi yang digali dari kearifan lokal dari Empu Tantular dalam Kitab Sutasoma, “Bhinneka Tunggal Ika”, yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Yang kemudian diterjemahkan dalam sila ketiga pancasila, “Persatuaan Indonesia”. Nilai-nilai luhur budaya berupa gotong royong, toleransi, dan yang lainnya mampu menopang ketahanan NKRI dari disintegrasi bangsa.

Ketiga, modal ideologi yang kuat. Ideologi yang kuat ini memungkinkan Pancasila bertahan hingga hari ini. Karena ideologi Pancasila merupakan bukan hal yang asing bagi bangsa Indonesia. Sebab falsafah yang terkandung dalam Pancasila digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang telah hidup ratusan tahun lamanya. Sehingga tantangan dan ancaman untuk mengganti Pancasila sebagai ideologi negara selalu menghadapi kegagalan.

  • Disampaikan pada seminar Dewan Pertimbangan Presiden “Pancasila dan Kebhinekaan” di Yogyakarta, 6 November 2017.
  •  Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)