You are here
Home > Jakarta Kita > MUI Jakarta: Tidak Ada Gunanya Saling Berseteru

MUI Jakarta: Tidak Ada Gunanya Saling Berseteru

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta KH A Syarifuddin Abdul Ghani mengatakan siap memediasi konflik antara Front Pembela Islam (FPI) dan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Kami sudah berdialog dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Jakarta untuk mencoba memediasi konflik FPI dengan Plt Gubernur,” kata Syarifuddin seusai pembukaan Rapat Koordinasi Daerah MUI DKI Jakarta di Balaikota, Rabu (12/11/2014).

(Dari kiri ke kanan) Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI Budi Utomo, anggota DPD DKI Jakarta AM Fatwa, Wakil Ketua MUI Ma’ruf Amin, Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Ketua MUI perwakilan DKI Jakarta Ahmad Syarifudin Abdul Ghani, Sekda DKI Saefullah, di Balai Agung Balaikota, Rabu (12/11/2014).

Ia mengatakan, konflik kedua belah pihak harus segera diselesaikan sehingga tidak semakin runcing dan menimbulkan masalah yang semakin besar.

Syarifuddin menambahkan, semua pihak juga tidak perlu terprovokasi dengan aksi unjuk rasa anggota FPI di depan kantor DPRD maupun di Balaikota baru-baru ini.

“Kami mengharapkan ini cepat selesai. Jangan berlarut-larut karena tidak ada gunanya saling berseteru,” tambah Syarifuddin.

Dia berpendapat, keputusan Ahok mengusulkan pembubaran ormas FPI hanya akan memperuncing masalah.

Wakil Ketua MUI Pusat KH Maruf Amin juga meminta anggota organisasi FPI menyampaikan aspirasi sesuai yang diatur dalam konstitusi. [Baca: MUI Minta FPI Sampaikan Aspirasi Sesuai Konstitusi]

“Semua orang berhak menyampaikan aspirasi. Jadi, sebaiknya FPI juga menyampaikan aspirasi yang dijamin konstitusi. Nanti penyelesaiannya juga sesuai konstitusi,” katanya.

Ia mengatakan, konflik antara FPI dan Plt Gubernur DKI tersebut harus diselesaikan secara arif dan mengedepankan dialog.

“Sudah benar kalau FPI menyampaikan aspirasi ke DPRD. Nanti akan diselesaikan juga dengan mengkaji aturan dan konstitusi,” ucap Syarifuddin.

Menurut dia, menyampaikan aspirasi dengan tindakan anarkistis bukan bagian dari wajah Islam. Komunikasi dan dialog menjadi jalan terbaik untuk mencari solusi atas konflik tersebut. ( kutip : kompas )

Top