KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

KH Abdul Hayyie Nai’m lahir di Cipete, Jakarta Selatan pada tahun 1940. Ia adalah putra ulama Betawi, KH Muhammad Na’im yang berasal dari Cipete, dan Hj Mardhiyah yang asal Mampang. 


Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ia meneruskan ke Raudlatul Muta’alimin Mampang. Saat berusia 14 tahun, ia dikirim untuk menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur atas anjuran Kiai Razzaq, pengasuh Raudlatul Muta’alimin Mampang. Di Tebuireng, Abdul Hayyie muda menjadi santri istimewa dan merupakan santri kesayangan Kiai Idris, gurunya. Dianggap sebagai anak, Abdul Hayyie muda pun dilarang terlalu sering pulang ke Jakarta.

Pada tahun 1960, Abdul Hayyie diizinkan pulang dari Tebuireng. Ayahnya beralasan akan memberangkatkan Kiai Abdul Hayyie menunaikan ibadah haji. Kiai Muhammad Na’im sangat menginginkan anaknya belajar di Makkah.  Di Makkah, Abdul Hayyie belajar di Pesantren Darul Ulum, asuhan Syekh Yasin Al-Padangi, ulama besar Makkah kelahiran Minangkabau. Ia satu kelas dengan Kholil Bisri putra KH Bisri Musthofa Rembang.

Tahun 1965, bersama Hambali Maksum dan Mahfudzh Ridwan, ia hijrah ke Baghdad, Irak berbekal tiket yang dibeli dengan uang terakhir yang mereka miliki. Mereka mendaftar di Fakultas Sastra Baghdad University. Di Baghdad pula, Abdul Hayyie bertemu dan kemudian bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

KH Abdul Hayyie meraih gelar Lc pada tahun 1970. Tetapi ia tidak segera pulang ke Indonesia. Ia lebih dulu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Yordania, Turki, dan Beirut sebelum akhirnya pulang ke Indonesia tiga tahun kemudian.

Di Cipete, ia segera terjun dalam aktivitas dakwah dan taklimnya. Ia mengasuh pengajian dan Madrasah An-Nur, peninggalan ayahnya, dan berbagai madrasah dan majelis taklim lain di Jakarta Selatan dan Depok.
Kiai Abdul Hayyie mengaku miris menyaksikan kekejian dan kesadisan yang dilakukan oleh sesama manusia. Menurutnya, Jakarta sekarang ini ibarat hutan belantara yang dihuni binatang buas. Ia sangat mengkhawatirkan perkembangan masyarakat mendatang. Kepeduliannya terhadap remaja itu menggerakkan hatinya mendampingi Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengasuh Majelis Taklim Nurul Mustafa, yang sebagian besar jamaahnya adalah para remaja. Diolah dari berbagai sumber. ( Kutip ; NU-Online )

Bagikan ;