Ketum PPP Sebut Revolusi Industri 4.0 Bukan Ramalan Menakutkan

Indonesia bakal menghadapi Revolusi Industri Keempat atau Revolusi Industri 4.0. Dimana, sejumlah pekerjaan lama akan hilang dan akan berganti pekerjaan baru. Disamping itu, pesatnya kemajuan Industri dewasa ini banyak yang bertanya bagaimana cara menyikapi atau menghadapi hadirnya Revolusi Industri 4.0 ini.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy mengatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 bukanlah suatu ramalan yang menakutkan, justru peluang makin luas terbuka bagi anak bangsa untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Pria yang akrab disapa Rommy ini menukil apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam kesempatan pidatonya di acara Industrial Summit 2018 yang mengungkapkan bahwa revolusi industri 4.0 akan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru dan menjadi lompatan besar bagi ekonomi Indonesia.

“Revolusi industri 4.0 diartikan sebagai lompatan teknologi dibidang industri yang lebih efisien, efektif dan serba otomatis dikendalikan oleh robot,” kata Rommy melalui kultwitnya di @MRomahurmuziy, Jumat-Sabtu (7-8/4/2018), akhir pekan lalu.

Rommy menyampaikan, Revolusi industri 1.0 sebelumnya diawali dengan penemuan mesin uap tahun 1698, sementara revolusi industri 2.0 dimotori oleh pemanfaatan listrik, dan seri 3.0 dipicu pengembangan semi konduktor dan otomatisasi industri awal.

“Optimisme Presiden Jokowi ini cukup berdasar. Dampak terhadap ekonomi dari adanya revolusi industri 4.0 akan menciptakan aneka bisnis baru di Indonesia dari mulai start-up booming, virtual reality, artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data, dan quantum computing,” terangnya.

Bahkan, lanjut dia, lembaga bereputasi internasional PWC yakni tahun 2030 Indonesia akan menempati urutan ke 5 dunia dan tahun 2050 menjadi peringkat ke-4 menggeser Jepang sebagai ekonomi yang paling besar di dunia. “Penciptaan lapangan kerja secara besar-besaran juga salah satu kunci dari adanya revolusi industri baru ini,” cetusnya.

Rommy menguraikan, di dalam Laporan McKinsey Global Institute tahun 2017 disebutkan bahwa revolusi industri 4.0 membuat 800 juta lapangan pekerjaan akan hilang hingga tahun 2030 karena tenaga manusia digantikan oleh otomatisasi robot. Sebenarnya kesimpulan dari laporan McKinsey ini belum lengkap tanpa melihat studi sebelumnya.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey di Prancis selama 15 tahun terakhir, sambungnya, membuktikan fakta bahwa 500 ribu pekerjaan hilang akibat perkembangan teknologi internet. Tapi di sisi yang lain internet justru menciptakan 1,2 juta lapangan kerja baru di Prancis. Artinya ada surplus 700 ribu lapangan kerja baru. Begitu juga dengan kekhawatiran pekerjaan akibat teknologi khususnya robotisasi juga tidak terbukti di Amerika Serikat. Tingkat pengangguran di AS pada tahun 2017 turun menjadi 4,1% atau terendah dalam kurun waktu 17 tahun terakhir.

“Jika 800 juta lapangan kerja hilang di 2030, maka kemungkinan besar akan ada miliaran lapangan kerja yang baru,” ujarnya.

Menurut Rommy, Tantangan kedepan adalah meningkatkan skill tenaga kerja di Indonesia, mengingat 70% angkatan kerja adalah lulusan SMP. Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu keharusan agar tenaga kerja bisa langsung terserap ke industri. “Selain itu, Pemerintah perlu meningkatkan porsi belanja riset baik melalui skema APBN atau memberikan insentif bagi Perguruan Tinggi dan perusahaan swasta,” hematnya.

Dia mengungkapkan bahwa, saat ini porsi belanja riset Indonesia hanya 0,3% dari PDB di tahun 2016, sementara Malaysia 1,1% dan China sudah 2%. Belanja riset termasuk pendirian techno park di berbagai daerah sebagai pusat inkubasi sekaligus pembelajaran bagi calon-calon wirausahawan di era revolusi industri 4.0

“Harapannya tingkat inovasi Indonesia yang saat ini berada diperingkat 87 dunia bisa terus meningkat sehingga lebih kompetitif di era transisi teknologi saat ini,” kata Rommy, berharap.
(kutip : nusantaraNews)

Bagikan ;