You are here
Home > Fikrah > Kalkulasi Peluang Agus-Sylvi: Daya Kejut Mayor-Profesor

Kalkulasi Peluang Agus-Sylvi: Daya Kejut Mayor-Profesor

Paling buram elektabilitasnya, duet penuh kejutan ini diprediksi menyimpan daya ledak. Satu-satunya di pasangan ini: perempuan, Betawi, profesor dan tentara. Prioritas menggaet pemilih perempuan dan generasi muda.

Melawan Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama, gubernur petahana DKI Jakarta, perlu sosok dengan elektabilitas kuat. Dan seluruh kekuatan kontra Ahok harus bersatu. Lawan Ahok tak boleh pecah lebih satu pasangan. Prinsip itu yang selama ini dipegangi berbagai simpul oposisi Ahok. Maka munculnya sosok muda, Mayor Agus Harimurti Yudhoyono, 38 tahun, sebagai jagoan koalisi empat partai, sangat mengejutkan.

Skor keterpilihan Agus tidak jelas. Pengalaman politik dan pemerintahannya masih hijau. Bahkan beredar spekulasi, jangan-jangan ini operasi tiga parpol loyalis Presiden Jokowi, PPP, PKB dan PAN, yang hendak memenangkan Ahok, dengan memecah barisan lawan Ahok. Semua tahu, Jokowi mendukung mantan wakil gubernurnya itu. Tapi belakangan, ekspektasi pada kejutan Agus yang dipasangkan dengan birokat senior, Sylviana Murni, 57 tahun, bermunculan.

Beberapa gelombang pilkada belakangan memberikan peluang baik bagi kemenangan pemimpin muda. Jambi, Trenggalek, dan beberapa tempat lain, Desember 2015 lau, melahirkan pemimpin muda. Agus bukan hanya berusia muda, juga bergelimang prestasi. Selalu jadi lulusan terbaik di berbagai jenjang pendidikan, mulai di SMA Taruna Nusantara, Akabri, sampai di sejumlah pendidikan pascasarjana. Pun di sejumlah pendidikan militer.

Pesona Agus jauh lebih menawan dibandingkan dengan adiknya, Edhie Baskoro Yushoyono, yang lebih dulu dikader pada jalur politik oleh ayahnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah analis dan para tim politiknya yakin, dengan berbagai bekal prestasi itu, Agus berpeluang memikat pemilih pemula dan perempuan. Mulai gadis, ibu muda, sampai janda.

Pasangan Agus, Sylvi, dikalkulasi dapat melengkapi kekurangan Agus yang belia. Sylvi juga memili sejumlah distingsi. Ia satu-satunya calon perempuan sepanjang Pilkada DKI era reformasi. Itu dapat memperkuat target pasangan ini membidik pemilih perempuan. Mantan None Jakarta 1981 ini juga satu-satunya orang Betawi peserta pilkada, dan aktif di sejumlah organisasi Betawi. Ia juga satu-satunya profesor di Pilgub DKI. Tak banyak birokrat karier pemda bergelar profesor.

Analis politik dari Charta Politica, Yunarto Wijaya, menilai secara kualitatif, Agus punya daya ledak. Ibarat menu makanan, kata Toto, Agus masih tahap belum digoreng. Fresh. “Walaupun elektabilitas Agus saat ini paling rendah, daya ledaknya besar apabila dikemas dengan baik. Potensi Agus menyalip Anies sangat besar,” kata Yunarto. Agus bahkan berpeluang mengeruk basis pendukung Ahok. “Enggak bisa serta merta Ahok memenangkan petarungan,” Yunarto menambahkan.

Waketum DPP Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf, mengurai efek kejut saat pengumuman Agus. “Semua kaget,” ujar Nurhayati. “Semua anak muda, teman-teman anak saya bilang, Ahok sorry ya, ada Agus, ga jadi ke Ahok. Jadi ini kejutan,” Nurhayati optimistis. Agus, kata Nurhatai, memang digadang untuk merebut hati pemilih muda dan perempuan.

Wasekjen DPP Demokrat, Ramadhan Pohan, menjelaskan tampilan Agus di ruang publik kerap membius kaum hawa. “Setiap penampilan dia di sekolah-sekolah, menjerit itu perempuan-perempuan. Ibu-ibu senang,” ujar Ramadhan. “Barangsiapa bisa menarik perhatian anak muda dan perempuan, itulah sukses politik Indonesia. Sudah terbukti, SBY, Ridwan Kamil dan lain-lain,” ia menambahkan.

Ramadhan membuat rasionalisasi, mengapa tiga parpol berbasis Islam yang pro pemerintahan Jokowi, tidak mendukung Ahok. “Kalau mereka mengusung Ahok, itu menyimpang dengan apa yang dirasakan ummat,” ujar Ramadhan. Maka itu, ketiga partai ini, bagi Ramadhan, tidak mungkin calon gubernur non-muslim di daerah berbasis Islam kuat. Duet ini, karena itu, bisa menampung pemilih yang menolak gubernur non-muslim.

Agus, kata Ramadhan, juga dikenal luas di media sosial. “Lihat jutaan follower-nya di Instagram,” ujar Ramadhan. Ini lagi-lagi modal untuk mendongkrak elektabilitas. Akun Instagram Agus, dalam pantauan Gatra, memiliki 1,5 juta follower. Agus aktif mengunggah kegiatannya di Instagram dan mendapat respons ramai dari netizen. Bila Agus sukses, ini bakal jadi eksperimen politik menarik.

 

Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni (Gatra/Dharma Wijayanto/AK9)

Analis politik Djayadi Hanan meragukan efektivitas parpol pengusung Agus. Faktor parpol dalam pilkada, menurut Djayadi, secara umum tidak banyak berpengaruh. Namun ada pemilih parpol yang cenderung disiplin: PKS, PDIP dan Gerindra. Empat parpol pendukung Agus-Sylvi bukan tipe disiplin. Pemilih PDIP ditaksir solid memilih Ahok. Pemilih Gerindra dan PKS akan solid mendukung Anies. “Tingkat dukungan kepada Agus, untuk sementara yang paling tidak pasti,” kata Djayadi.

Namun Djayadi menilai Agus memiliki potensi, meski baru masuk ranah politik. “Karir dia di militer menunjukkan dia memiliki potensi,” tulis Djayadi. Sebagai orang baru, menurut Djayadi, titik terlemah Agus pada kecakapan memimpin. Ketua Komisi Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono, menyebut kelemahan Agus itu akan dilengkapi Sylvi.

Agus, di mata Ibas, adalah sosok yang santun, tegas, berpendidikan tinggi, lulusan tiga master -MPA, MSC, MA, berprestasi di TNI, ikut upaya perdamaian dunia, serta memiliki track bagus dan mumpuni. Sylvi adalah birokrat dengan rekam jejak panjang, profesor berpengalaman di pemerintahan, dan mantan Wali Kota Jakarta Pusat. “Mas Agus dari etnis Jawa, mewakili kalangan muda dan energik. Ibu Sylvi adalah figur lincah representasi dari kalangan perempuan dan berasal dari etnis Betawi,” ujarnya. “Pasangan ini saling melengkapi.”

Soal komitmen parpol, Ketua DPW PPP DKI Jakarta, Abdul Aziz, memastikan akan menggerakkan mesin partai. Itu komitmen empat parpol pengusung. Aziz, putra mantan Ketua PPP Jakarta, Ahmad Suedy ini memaparkan, PPP kuat di Jakarta Timur dan Selatan. Kursi PPP dan Demokrat di DPRD Jakarta sama-sama 10. “Kita akan menugaskan anggota DPRD yang 10 itu untuk melakukan kerja-kerja politik beberapa bulan ke depan,” katanya.

Seperti elite Demokrat, Aziz juga menilai sosok Agus potensial meraup suara kalangan muda dan ibu-ibu. “Itu yang kita eksplorasi dari Mas Agus,” ujar Aziz. Ia juga bilang, duet ini saling melengkapi, baik sisi kemampuan maupun latar etnis. “Orang pertama cukup leadership-nya,” kata Aziz. Adaptasi terhadap struktur dan kultur pemda, Sylvi yang mem-backup.

“Itu yang dipromosikan,” kata Aziz. Ini juga gabungan Jawa-Betawi. “Bukan Bang Agus dan Mpok Silvy. Tapi Mas Agus dan Mpok Silvy. Karena variabel dominan di Jakarta adalah Jawa dan Betawi,” kata mantan pelaksana tugas Ketua Umum PP Ikatan Pelajar NU ini. Aziz juga yakin, jagoannya efektif membidik massa mengambang. “Mereka menawarkan kebaruan, jadi tawaran menarik bagi swing voters,” ujarnya. Pemilih yang masih labil itu angkanya kisaran 20%.

Aziz menepis mereka yang meragukan pengalaman kepemimpinan Agus. “Apakah leadership dia saat di militer masih kita pertanyakan?” katanya. Ia menyebut posisi terakhir Agus adalah komandan batalyon pasukan mekanis, Arya Kemuning. “Jika Jakarta kenapa-kenapa, tugas pasukan Arya Kemuning ini mengamankan Ibu Kota,” katanya.

Waketum DPP PAN, Viva Yoga Mauladi, juga berkomitmen, mesin PAN akan digerakkan. “Masing-masing partai diberi tanggung jawab untuk menggerakkan mesin partainya secara maksimal,” kata mantan Ketua Umum PB HMI ini. Sylvi adalah senior Viva di PB HMI.

Sama dengan pendukung lain, Viva juga menyebut pemilih muda dan perempuan, sebagai prioritas target. Sebagai satu-satunya calon perempuan, Sylvi memiliki kelebihan menggaet pemilih perempuan. “Baik janda, orangtua, maupun anak muda,” katanya. “Agar mereka terwakili aspirasi politiknya,” ujar Viva.(kutip: GATRA)

Top