“instanisasi-diri”

Disebuah Pusat Belanja, dalam  ruang tunggu yang luas dan asri, puluhan orang duduk dan beberapa berdiri menunggu kesempatan dilayani secara tertib. Hening dan hanya suara mesin antrian yang memanggil diselingi sesekali “ting” “tung” “teng” ringtone smartphone.

Begitu banyak orang mengantri, semua bangku tunggu terisi, beberapa berdiri,  namun begitu sunyi dan sepi, diselingi suara panggilan…. “…nomor antrian— silahkan ke meja no— …” Lalu… “Klung” lalu “ting”…kadang “tung”…

ilustrasi

Keluar ruangan tadi, lalu menelusuri  lorong menuju pintu keluar Gedung ; beragam orang lalu lalang, berpakaian “office-look” hingga “casual”, berjalan cepat memburu waktu ataupun jalan santai dengan kolega, namun itupun tetap asyik dengan smartphone-nya juga dengan “teman jalannya” …tertawa bukan karena bicara dengan orang yang bersamanya, tapi karena baru melihat yang lucu di smartphone-nya..

Melewati itu, malah ada 2 orang yang hampir saja beradu badan karena keduanya berjalan berbeda arah tapi sama-sama asyik dengan smartphone-nya masing-masing …hi…hi..

 

ilustrasi

Inikah Kita ?

Di awal milenium baru, th 2000, Kota seperti di Jakarta mengenal istilah “lonely in the crowded” untuk tumbuhnya generasi pekerja di Kota Jakarta yang datang dari berbagai wilayah dan tinggal di rumah kos. Tidak punya kehidupan sosial, kecuali di tempat kerjanya, dan menjadi sendirian saat berdesakan di angkutan umum, tetap sendirian di rumah kosnya, kendati terletak di area padat penduduk.

ilustrasi

Namun, budaya “guyub” yang lekat dengan Kita, terfasilitasi oleh tumbuhnya media sosial dan booming smartphone 5 tahun terakhir. Jadilah situasi seperti digambarkan di atas, yang Kita alami saat ini.

“Lonely in the crowded” hilang ?

‘Gak juga, buktinya situasi diatas justru yang umum Kita lihat saat ini, ada ketertiban di satu sisi, namun tetap tidak mencairkan suasana. Konon, populasi gadget di negara ini sudah melebihi penduduknya, kendati itu tersebar di tidak lebih 30 persen luas wilayahnya. Kabarnya, banyak jenis social-media di Indonesia, mengalami pertumbuhan yang melebihi pertumbuhan negara-negara lain pemakaiannya…

Mark Zuckenberg (pendiri Facebook), dikabarkan terkagum – kagum dengan perkembangan  pengguna Facebook di negara ini, yang melampaui banyak negara lain di dunia…

Cerita serupa untuk twitter, instagram, Google Plus, dan lain – lain yang menjadikan Indonesia pasar besar yang prospektif dalam tekhnologi informasi. Dalam 5 tahun terakhir tercatat banyak  akuisisi situs – situs Lokal oleh pemodal asing, belum lagi pertumbuhan tempat belanja online yang ironisnya banyak dimiliki oleh asing dan berbasis di luar negri…

Inikah Kita ?

BUKAN !!! Kita Tidak seperti itu….

Rhamadlan 1436 H baru saja meninggalkan Kita dengan segala warnanya, Rhamadlan mengajarkan kepada Kita untuk menjadi manusia, karena bukan saja kepada sang pencipta, hubungan sebagai manusia juga harus diperbaiki, dimensi sosial zakat fitrah menegaskan itu belum lagi amalan lainnya.

Revolusi gadget saat ini memang sangat memudahkan dalam berbagai aspek kehidupan, namun dapat membahayakan nilai – nilai sosial kemanusiaan Kita kalau ‘gak bijak memanfaatkannya. Momen Iedul Fitri 1436 H, hendaknya juga Kita jadikan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hubungan sosial Kita, menjadikan tehnologi sebagai pelengkap untuk perbaikan diri dan justru tidak mengurangi “keguyuban” sosial yang sebenarnya…

مُحَافَظَةُ عَلَى قَدِيْمِ الصَّالِحْ وَالْاَ خْذُ عَلَى جَدِيْدِ الْاَ صْلَحْ

Artinya: “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1436 H

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ
تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ
كل عام و انتم بخير

Bagikan ;