Guru Abdurrazak Makmun, Ulama Asli Betawi yang Dijuluki ‘Singa Podium’

Guru Abdurrazak Makmun (sumber: www.nu.or.id)

Kiprahnya mulai dikenal orang ketika pada dekade 1950-an dan 1960-an.

Nama asli Abdurrazak Makmun adalah KH Abdurrazak bin Makmun. Menurut catatan biografinya, ia dilahirkan Rabiul Awal 1335 H berbareng tahun 1916. Ia adalah cucu dari Guru Mughni ulama besar Kuningan, Jakarta Selatan dari garis ibu.

Seperti dikutip dari situs NU Online, Abdurrazak wafat 25 Muharram 1404 H atau bertepatan dengan 1 Nopember 1983 di usia 67 tahun. Jenazahnya dikebumikan di sisi makam bapaknya, Guru H. Muhammad Makmun bin Jauhari bin Mi’un di Kompleks Masjid Darussalam, Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain mengaji di Jakarta, ia pernah menggali ilmu agama di Mekkah selama 6 tahun. Karena keluasan ilmu fiqh-nya, Guru Abdurrazak pernah duduk sebagai Katib Syuriah PBNU 1967-1971. Kiai Bisri Syansuri menyaksikan sendiri dan mengakui kompetensi fiqh kiai asal Kuningan ini.

Di awal tahun 1945, ia bersama KH Ali Syibromalisi, pamannya dan KH. Abdussyakur Khairi diutus oleh KH Ahmad Djunaidi (orang tua H. Mahbub Djunaidi, aktivis kawakan NU) untuk menghadiri Muktamar NU di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Tiba di Jakarta, ketiganya menggagas pendirian Madrasah Raudhatul Muta’allimin dengan berbadan hukum yayasan. Dengan ilmu dan niat yang suci, mereka melaksanakan amanat muktamar tersebut dalam rangka mengembangkan agama, bangsa dan negara lewat jalur pendidikan. Itikad baik ini disambut baik masyarakat, pengusaha dan para kiai di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain tersohor sebagai pendiri madrasah, Guru Abdurrazak juga dikenal sebagai ‘singa podium’. Namanya akrab di kuping hampir seluruh penduduk Betawi kala itu. Kiprahnya mulai dikenal orang ketika pada dekade 1950-an dan 1960-an, ia menjadi penceramah utama di Kwitang, di majelis Habib Ali Kwitang, sehingga menjadi kesayangan Habib Ali Kwitang.

Kepeduliannya akan urusan sosial kemasyarakatan, adalah komitmen besar pribadinya. Di tahun 1980-an pemerintah menggalakkan program transmigrasi. Ia seorang kiai yang sangat getol mengampanyekan program tersebut. Tak hanya di podium, ia turun langsung melihat perkembangan para transmigran di Lampung.

Alasannya, para transmigran kebanyakan adalah umat Islam. Kalau bukan kiainya, siapa lagi yang mau peduli akan nasib mereka. Di kantong-kantong daerah transmigrasi, Guru Abdurrazak memberikan dukungan moral untuk para transmigran. Di usia senja, ia tetap semangat berkampanye isu transmigrasi yang sangat terkait hajat hidup orang banyak.

Sejumlah nama besar hasil didikannya muncul, seperti KH Ishak Yahya (1928-1980), pendiri Pesantren Miftahul Ulum, Gandaria, Jakarta Selatan, KH Abdul Azdhim Suhaimi, KH Sidiq Fauzi, KH Salim Jaelani dan adiknya, KH Soleh Jaelani, KH. Muchtar Ramli, KH Abdurrazak Chaidir, KH Abdul Hayyi, dan KH Abdur Rasyid. ( kutip ; beritasatu )