Demokrat, PPP, dan PAN Siap Menangkan Pilgub DKI

SUHU politik jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 kian memanas. Partai politik (parpol) papan tengah, yakni PPP, Demokrat dan PAN membentuk poros baru yang diyakini bakal menjadi motor penggerak dalam memperebutkan kursi DKI 1.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP DKI Jakarta Abdul Azis mengungkapkan, kesempatan terbentuknya poros baru sangat terbuka lebar. Secara pribadi, dirinya menghitung koalisi tiga partai yakni PPP dengan 10 kursi, Demokrat 10 kursi, dan PAN 2 kursi menghasilkan 22 kursi.

Sehingga bisa merealisasikan poros tersebut, dan memenuhi syarat mengusung pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur. “Dalam politik semuanya sangat mungkin terjadi, termasuk pembentukan poros baru untuk menghadapi Pilgub 2017,” ujar Azis, usai bertemu Ketua DPD Demokrat Nachrowi Ramli, di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, akhir pekan lalu.

Azis mengungkapkan, telah mendapatkan instruksi dari DPP agar menjalin komunikasi intensif dengan Demokrat dan parpol lain terkait Pilgub DKI. Termasuk dalam hal koalisi ataupun mengusung cagub dan cawagub. “Silaturahmi dengan Bang Nara (Nachrowi Ramli) ini merupakan upaya menjalin komunikasi intensif itu,” katadia.

PPP di Jakarta juga sangat berharap dapat bersama-sama dengan Demokrat dalam menghadapi pilgub mendatang. Selain memiliki banyak persamaan, keduanya juga memiliki basis dukungan yang cukup besar dari masyarakat. “Semoga dengan pertemuan ini, harapan itu dapat terwujud,” tutur Azis.

Sedangkan Ketua DPD Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli menanggapi positif keinginan PPP untuk bersama-sama dengan Demokrat di Pilkgub DKI Jakarta. Menurut dia, koalisi Demokrat dan PPP sangat terbuka peluangnya. “Kami sama-sama memiliki keinginan untuk merubah Jakarta menjadi lebih baik ke depan. Salah satu caranya dengan mencari pemimpin yang baru untuk diusung,” tegas dia.

Nachrowi juga menyatakan, kini Demokrat telah melakukan penjaringan bakal calon gubernur. Sebanyak delapan nama berhasil masuk dalam penjaringan, dan telah diserahkan kepada DPP. “Selanjutnya DPPlah yang akan menentukan siapa dari nama-nama yang masuk itu yang akan diusung. Termasuk apabila ada calon lain selain delapan nama yang sudah diserahkan,” terang mantan calon wakil gubernur periode pada Pilgub DKI 2012 itu.

Di sisi lain, Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto menilai, pembentukan poros baru untuk mengimbangi kekuatan lain bisa jadi bakal merubah konstelasi politik yang ada. Apabila poros ini mampu menawarkan pasangan calon gubernur dan wagub yang bisa diterima masyarakat, akan sangat mungkin bisa memenangkan pilgub.

Terlebih, calon lainnya yakni Basuki Tjahaja Purnama yang diusung Golkar, Hanura, Nasdem dan Sandiaga Uno oleh Gerindra, belum mewakili tiga kelompok suku terbesar di Jakarta, yakni suku Jawa dan Betawi serta Sunda. “Jika poros PPP, Demokrat dan PAN mampu menghadirkan calon yang bisa diterima tiga suku terbesar itu, akan sangat besar peluang mereka bisa menang,” tandasnya.

Seperti diketahui, di DPRD DKI Jakarta sebanyak 106 kursi, dengan rincian PDIP 28 kursi, Gerindra 15 kursi, PKS 11 kursi, PPP 10 kursi, Demokrat 10 kursi, Hanura 10 kursi, Golkar sembilan kursi, PKB enam kursi, Nasdem lima kursi, dan PAN dua kursi.

Jika merujuk aturan pilgub, maka untuk mengusung satu pasang calon harus memiliki minimal 21 kursi dari parpol maupun gabungan parpol. Hanya PDIP yang bisa mengusung satu paket pasangan calon tanpa harus berkoalisi. Sedangkan parpol lainnya, termasuk PPP, Demokrat dan PAN harus berkoalisi bila ingin dapat mengusung. Sementara itu, jumlah suara sah pada pileg 2014 sebanyak 4.537.227.

(kutip:indopos)